Tentang Aku I

pada profil nggak begitu lengkap... maka di sini aku akan sedikit melengkapinya....
Aku lahir di kota batubara sumatera selatan, tepatnya di kota tanjung enim. kota ini secara administratif masuk di wilayah kabupaten muara enim, dulunya sih namanya lematang ilir ogan tengah. maklum posisi ibukota kabupaten (muara enim) ini berada di hilir sungai lematang dan di tengah sungai ogan.
aku lahir pada tanggal 4 maret 1967. saat itu aku lahir di rumah, bukan di rumah sakit sebagaimana saudara-saudaraku lainnya. aku juga nggak tahu persis mengapa bisa demikian. karena situasinya saat itu sulit, atau juga karena ayahku saat itu menjadi salah satu pejabat penting di PT Tambang Arang Bukit Asam (PT TABA) ? ya ayahku saat ini menjadi kepala bengkel listrik, orang yang bertanggung jawab atas sistem kelistrikan perusahaan.
Pada tahun 1970 ayahku mengundurkan diri dari PT TABA, kemudian kami pindah ke kota Lahat. ayahku menjadi guru di STM Negeri Lahat. akhirnya panggilan hidupnya terbangkitkan hehehe maklumlah beliau ini sebenarnya alumnus UGM jurusan Pedagogi (cikal bakal IKIP Yogyakarta dan kemudian menjadi UNY).
Kami di lahat tidak lama, kurang lebih 3 tahun. tahun 1973 kami pindah ke tanjung pandan yang terletak di pulau belitung. ayahku di pindah ke kota ini untuk menjadi kepala sekolah teknik (setingkat SLTP). di kota ini aku bisa merasakan berbagai hal tentang kehidupan... ya maklum saja karena usiaku semakin bertambah hehehe
Pertama tinggal di kota ini, keluarga kami mengontrak rumah di kampung bukit, tetapi kadang juga disebut kampung jawa.
1 tahun di kampung bukit, kami pindah ke kampung air saga, menempati rumah yang dibangun orangtuaku. yang paling menarik dari pembangunan rumah ini adalah orangtuaku mempergunakan rumahnya sebagai lahan praktek bagi para muridnya, jadi bisa dibayangkanlah anak-anak seusia smp membangun rumah hehehe jadi nggak begitu simetris. orangtuaku memang sangat kreatif untuk menyiasati hidup dengan gaji pegawai negerinya itu. untuk sekat ruangan, orangtuaku memanfaatkan kulit kayu yang seringkali dibuang oleh para pengusaha kayu. menurut ibuku kayu-kayu itu didapatkan secara gratis dari pengusaha kayu yang dikenal orangtuaku di gereja. orangtuaku hanya membayar ongkos angkutnya saja.

jadi rumahku saat itu sangat artistik hehehe kulit kayu yang tidak digosok itu hanya dipernis saja, sehingga serat-seratnya kelihatan dan kadang membuat sakit tangan kalau pas tersentuh. kemudian batu bata yang hanya dibuat rendah pun tidak di plester, tetapi hanya di cat dengan meni kayu agar tambah merah, sedangkan semen perekatnya dicat dengan tir yang berwarna hitam itu...wis pokoke artistik banget hehehe
Oh iya, kecuali mempergunakan murid-murid sekolah teknik, pembangunan rumah ini juga memanfaatkan tenaga narapidana.  kebetulan, salah seorang adik sepupu Ibuku menjadi kepala penjara di tanjung pandan, maka dimanfaatkanlah mereka sebagai tenaga kerja untuk pembangunan rumah.  napi yang dipilih pun adalah napi yang sudah menjelang dibebaskan. 
di kota inilah aku mulai memasuki dunia pendidikan formal secara formal. waktu di lahat aku sering mengikuti mBak Yanti, tetangga rumah di talang jawa, untuk ikut belajar di sekolahnya yang sangat sederhana waktu itu (hanya terdiri dari 2 ruangan). di tanjung pandan aku sekolah di TK dan SD Regina Pacis. Guruku di TK Regina Pacis bernama Ibu Lina, beliau ini keturunan Belanda orangnya sangat baik. ada pengalaman menarik ketika aku sekolah di TK ini. saat itu aku ingin pipis, tetapi karena nggak tahu kalau ada WC dan aku malu untuk bertanya, maka yang terjadi adalah aku pipis di halaman sekolah hehehe, begitu masuk kelas kembali aku ditegur oleh beliau "Lik, kalau pipis jangan di situ ya... tapi di WC" begitu sapanya dengan lembut padaku hehehe.
ketika aku masuk ke kelas 1 SD di sekolah yang sama, aku diajar oleh seorang suster (maaf aku lupa namanya), beliau ini sangat menarik kalau mengajar. beliau selalu memacu muridnya untuk selalu mendapatkan nilai tinggi. setiap kali muridnya mendapat nilai 10 dari setiap ulangan yang dilakukan, maka si murid akan mendapatkan hadiah perangko Belanda. beliau memang berasal dari Belanda. waktu itu aku sempat mendapat 10 perangko hehehe lumayan kan...:-)
Ketika aku naik kelas dua, aku diajar oleh Ibu Atik. nggak ada kesan khusus di kelas ini semua berlangsung biasa saja. ketika kelas tiga, guruku bernama Ibu Yustin... terjadilah peristiwa menarik. saat itu ketika akan masuk kelas, seperti biasa kami harus berbaris dulu, aku dan kakakku di setop oleh beliau, kami tidak boleh masuk kelas. kami berdua bingung, karena merasa tidak melakukan kesalahan apa pun kok tiba-tiba tidak boleh masuk kelas... kakakku berinisiatif untuk melarikan diri keluar sekolah, karena aku bingung ya sudah aku ikut saja keluar sekolah hehehehe kami berdua berlari sekencang-kencangnya keluar pagar sekolah, meski kami sempat mendengar panggilan Bu Yustin. kami terus berlari menuju ke sekolah ayah kami yang terletak di dekat pasar ikan sambil menangis... :-)
Sesampainya di sekolah ayah, kami langsung menuju ruang ayah kami. kami langsung melaporkan apa yang terjadi pada kami. bukannya di bela oleh beliau, tetapi kami malah di jewer hehehe wuaduh...tambah nangislah kami berdua. kemudian kami diantar beliau kembali ke sekolah dengan sepedanya, aku duduk di depan kakakku di belakang... sambil terus menangis hehehe
sesampainya di sekolah, kami langsung diantar ke ruang kelas kami. Bu Yustin ternyata tidak marah, malahan beliau minta maaf kepada ayah kami sambil mengatakan bahwa sebenarnya beliau hanya mau bertanya kepada kami berdua apakah ayah kami sudah kembali dari palembang ? hehehehe jadi malu....:-p

Tidak ada komentar: